Misalkan kita sedang membutuhkan notebook untuk memperlancar apa yang kita lakukan sehari-hari. Kemudian dalam usaha pencarian kita, ada seseorang yang bernama Anita menawarkan notebook, katakanlah merk yang dia tawarkan adalah Hewlett-Packard. Kita lalu menimbang-nimbang, antara spek yang ditawarkan, harga yang diajukan dan budget yang kita miliki, termasuk juga untuk penggunaan dan maintenance kita kedepannya.
Sementara pada saat kita masih menyelediki notebook yang di tawarkan si Anita ini, muncul seseorang yang bernama Belinda yang juga menawarkan notebook. Notebook yang ditawarkan oleh si Belinda ini berbeda dengan notebook yang ditawarkan si Anita. Katakanlah merk yang ditawarkan adalah keluaran Axioo. Spek yang ditawarkan pun sekilas lebih up-head daripada spek yang dimiliki si Anita, harga pun lebih miring dari harga yang diminta si Anita. Karena excitment dan euphoria karena harga yang di ajukan Belinda masuk dalam budget yang kita sediakan, tanpa ba-bi-bu kita lalu mengontak si Anita bahwa kita tidak jadi membeli notebook miliknya. Dengan penuh semangat pun, kita pun menyelidiki notebook yang ditawarkan oleh si Belinda. Yah… untuk sebuah pembenaran karena kita tentunya tidak ingin beli kucing-dalam-notebook.
Si Belinda pun sudah mewanti-wanti bahwa dia ingin segera menjual notebook miliknya, si Belinda pun mengingatkan, dia akan menyerahkan notebook pada siapapun yang pertama kali memberikan mahar-jual-beli kepada Belinda. Karena desakan dari Belinda, maka logika kita pun sukar digunakan. Excitment untuk segera menggandeng sebuah notebook terus terbayang di depan mata. Karena dorongan emosi, maka kita segera buru-buru mengambil uang untuk melakukan transaksi dengan si Belinda. Tapi malang nian, langkah kita sedikit terlambat, notebook si Belinda sudah ditebus oleh orang lain. si Belinda pun memohon maaf dengan sangat. Dia mengingatkan akan aturan main yang sebelumnya dia ungkapkan, dan memohon kita untuk mengerti.
Ditengah rasa kecewa dan hampir putus-asa, ditengah hampir pupusnya bayangan notebook di hadapan mata, kita pun lalu kembali mengontak si Anita dan berharap si Anita masih bersedia menjual notebooknya ke kita. Ternyata notebook Anita pun sedang ditawar orang bahkan sudah diberikan uang mukanya juga, si Anita merasa tidak etis jika dia menyerahkan notebooknya ke kita hanya karena kita bersedia membayar berapapun harga yang Anita minta. Si Anita pun bersedia menjual notebooknya ke kita, jika orang-orang yang saat ini menawar notebooknya tidak jadi membeli. Padahal, tanpa kita sadari, orang yang mengantri untuk menawar notebook si Anita juga sudah beberapa.
“Hidup adalah pilihan..”
Gambarkan kejadian diatas, kadang sering terjadi. Baik dari kejadian yang sangat remeh hingga tidak kita sadari, sampai kejadian yang sangat penting bagi kehidupan kita. Seringkali kita dihadapkan dalam berbagai pilihan, dan memutuskan yang mana pilihan yang terbaik adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Untuk kasus seperti diatas, ada baiknya kita jangan terlalu buru-buru, jangan terlalu mengikuti emosi sehingga tidak bisa berpikir jernih. Sebelum kita mempelajari dengan benar pilihan yang baru, jangan campakkan dahulu pilihan yang sebelumnya. Walaupun akan memberikan kesan kita orang yang plin-plan dan tegas, tapi setidaknya dapat sedikit mengamankan kita dari kehilangan dua-duanya. Tapi.. lain lagi ceritanya jika Yang-Diatas tidak menghendaki kita dengan kedua-duanya.
Jika kita bingung dalam memutuskan pilihan, hendaknya untuk menyerahkan hati dan berkonsultasi dengan Sang-Pemilik-Pilihan agar hati dapat mantab dalam memilih dan bisa menerima dengan tabah apapun hasil pilihan yang sudah kita buat. Hal tersebut sama halnya dalam hal pemilihan pekerjaan dan jodoh.
Gambar diambil dari:
http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/19/90/83/19908303/42-19908303.jpg




seperti kata orang tua, kalau jodoh tak akan kemana hahaha
kayak aku aja kalau mau membeli sesuatu tidak bisa sekali langsung jadi. aku selalu melakukan survei dulu, bolak-balik
jika barang yang kita cari ternyata ada di “toko pertama”, dan ketika kembali barangnya sudah habis tidak apa2. ya itu tadi belum jodoh
cari-cari lagi, kalau ketemu di toko lain dan harganya agak mahal sedikit tapi memang itu pilihan terbaik kita ya ambil saja. tentu dengan pemeriksaan yang ketat
@ stwn
sepakat!
ya.. itu tadi.. intinya jangan sampai kita menjadi kecewa atas pilihan yang kita ambil tadi… ya.. mungkin karena belum jodoh itu juga..
Ini maksudnya sedang bingung memilih salah satu di antara 2 orang akhwat?
@ryan_oke
berusaha sabar dengan hasil kemungkinan yang muncul..
Dalam bilangan biner, jika ada digit pertama dan digit kedua, maka akan muncul empat buah kemungkinan, diantaranya.. dua-duanya bernilai satu dan dua-duanya bernilai nol
Bagaimanapun juga.. empat buah kemungkinan itu juga merupakan sunatullah juga kan? *mencobacaripembenaran
*
jadi siapa cepat dia dapat… terlalu cepat, bisa salah pilih…. terlalu memilih, malah ga dapat apa2
@ wyd
anda benar!